Lain kali, kalau janjian sebutkan jam. “Setelah Jumatan”, “Setelah Maghrib”, atau “Setelah Isya” itu masih SANGAT TENTATIF.

TDP

Menikmati Sisi Lain Braga

Foto di atas diambil dari lantai tertinggi Pusat Belanja di Braga, tepatnya dari blok Pasar Seni dan Barang Antik yang baru dibuka oleh Walikota Bandung.

Sebuah keanehan saya bisa sampai di tempat itu. Biasanya kalau main ke Braga ya paling mentok jalan-jalan di depan bangunan warisan Belanda yang masih utuh hinga kini itu. Terus foto-foto alay di depannya, nggak peduli kanan-kiri.

Namun selesai liputan Ujungberung Rebels Panceg Dina Galur, sebuah buku yang dirilis oleh Kimung, mantan personel Burgerkill Sabtu (23/11) lalu saya yang mau dijemput sama Jobs tapi lama banget nunggunya gara-gara dia kena macet jadi jalan-jalan sendirian ke seputar Braga yang macet edan pas jam pulang kantor.

Saya nggak sempat foto-foto di pasarnya karena takut sama abang-abang yang jualannya, belum melakukan pendekatan intensif dan nggak mampu beli karena ternyata harga barangnya mahal sekali. Jadi saya cuma jalan-jalan dan menikmati barang antik yang tersaji di depan saya. Mulai dari barang nggak penting kayak tatakan gelas sampe set meja antik yang harganya mahal banget ada di sana. Sebagian besar barang kondisinya masih baik dan masih bisa digunakan. Bahkan saya nemu kamera Leica yang bungkusnya aja masih dari kulit dan lensanya masih jernih. Ada juga kamera yang nggak ada view findernya, bentuknya masih kotak dan besar dengan dua lensa.

Amazing juga nemu tempat ini padahal sebelumnya nggak pernah tahu. Someday saya harus jalan-jalan lagi ke tempat itu dan beli barang antik buat koleksi. Ada tas Louis Vuitton asli dan kualitasnya masih bagus banget kalo dibandingin sama KW-nya (iyalah…)

Adanya tempat ini menunjukkan eksistensi Braga sebagai pusat masa lalu Bandung yang kini udah penuh sesak sama manusia. Mungkin tempat itu juga bisa jadi wisata unik buat pendatang Bandung biar nggak melulu jajan di FO. Sayangnya publikasi kurang, buktinya aja saya baru tahu tempat itu setelah membaca baligo yang jujur aja bentuk dan desainnya nggak  menarik.

Kemudian saya jajan kopi di pinggir Sungai Cikapundung. Kalo jajan kopi di emperan itu kayak ada ritus khususnya deh buat saya. Soalnya terlihat “sangat wartawan”. Di situ sambil nunggu saya ngobrol sama mamangnya. Berawal dari saya yang lempar wacana soal penggusuran PKL di Bandung, dia dengan semangat menceritakan harapannya soal Bandung dan Indonesia.

"Jadi pemimpin di Bandung ini belum dewasa, neng. Kalo dateng maunya disambut. Beda sama Pak Jokowi yang rela dateng turun langsung ke rakyatnya nggak usah pake sambut-sambutan segala"

"Mendingan sistem partai pas pemilu itu diilangin aja, kan bikin orang kalo mau nyalon harus bayar lagi ke partai, itu yang bikin korupsi. Ngerugiin rakyat aja"

"Dulu mah Pak Dada ngasih satu setengah juta buat tiap PKL yang digusur, kalo gitu mah percuma jadi balik-balik lagi PKL-nya. Satu setengah juta mah buat dua minggu abis, ngerugiin rakyat aja."

"Kalo bisa di Indonesia mah kayak di Amerika, jadi udah keliatan dulu prestasi calon pemimpinnya di parlemen, nggak asal aja asal punya duit nyalon jadi presiden."

"Neng tau nggak kebijakan gas dulu dateng dari mana? Dari JK lah. Dia kan nguasain perusahaan gas, biar dia untung aja."

"Saya mana tau Ridwan Kamil. Siapa dia? Orang ngedeketinnya anak-anak kampus aja. Saya mah nggak tau siapa dia. Tiba-tiba nongol aja jadi walikota."

Begitulah curhat mamang kopi yang saya temui. Waktu saya tanya dia baca koran apa, ternyata kerjaannya nonton TV berita. Ooh pantes aja dia jadi lumayan melek politik. Asiknya, dia ngasih solusi buat kemajuan bangsa ini. Sayangnya sehari-hari dia cuma ada di balik gerobaknya dan melayani wisatawan yang main ke Braga.

Semoga dia bertemu dengan pemimpin Bandung dan pemimpin negeri ini. Agar aspirasinya bisa disalurkan dengan lebih baik. Semoga juga saya bisa jadi wartawan hebat yang bisa mendengarkan aspirasi rakyat secara langsung dan menyampaikannya pada si pembuat keputusan.

Eh, emang saya mau jadi wartawan ya?

Cium Tangan

Tradisi ini turun temurun di Indonesia. Bahkan saya melakukannya pada Papa dan Mama sebagai bentuk penghormatan - atau kebiasaan. Entahlah. Namun seiring dengan perkembangan waktu, saya mulai menhilangkan kebiasaan itu. Saya, yang biasanya cium tangan orang yang lebih tua kini lebih biasa hanya menjabat tangan saja saat berjumpa.

Hidup di Jurnalistik membuat sudut pandang saya berubah. Saya jadi tahu bahwa “Anda” adalah panggilan tersopan pada orang lain tanpa harus menggunakan embel-embel “Bapal”, “Ibu”, atau “Baginda”. Saya jadi tahu bahwa bersikap egaliter adalah jalan terbaik untuk menunjukkan wibawa karena wibawa tak bisa diciptakan, tapi muncul dari sikap pribadi seseorang. Mencium tangan atau tidak sama saja, dengan bersikap sopan dan menghormati itu sudah cukup untuk memberi kesan yang baik.

Saya mulai terganggu oleh kelakuan Kapolri Sutarman yang mencium tangan Presiden SBY. Saya juga terganggu oleh Joko Widodo yang mencium tangan Megawati. Seolah penghormatan dari banyak orang tidak cukup harus mencium tangan segala. Seolah mencium tangan akan meraih simpati dari banyak orang. Padahal simpati muncul sendiri dari sikap baik seorang pemimpin.

Egaliter, itulah jalan terbaik untuk menumbuhkan rasa saling percaya. Indonesia adalah negara demokratis, bukan negara feodal. Maka dari itu, jurnalis selalu dididik untuk berani menggunakan nama tanpa embel-embel, karena segala jabatan dan pangkat bisa hilang, sedangkan nama dibawa hingga mati.

Jadi kini, saya lebih memilih untuk mencium pipi Mama sebagai tanda sayang.

Mencintai adalah gerbang sekaligus wahana penerimaan. Seperti hubungan orangtua dan anak. Begitu juga cinta Ibu Pertiwi. Sakit-susah-senang-bangga-haru-puji-bangga-syukur-makian semua ada dan saya rasakan menjadi anak dari Sang Ibu yang saya jejak kini.
Kemiskinan, pengangguran, kekerasan, pelanggaran HAM, korupsi, gratifikasi, suap, macet, perubahan iklim, intoleransi, pembunuhan, penipuan, kebohongan, curhat presiden, rapuhnya independensi media, kebodohan.
Penghargaan, prestasi, daya juang, keragaman, kepemilikan sumber daya alam, melimpahnya sumber daya manusia, perjuangan melawan penjajahan, kebebasan, tetap hidup.

TDP

Menjelang Hari yang Harus Dimaknai

Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November selalu menyisakan kesan tersendiri bagi Indonesia. Kala itu, pimpinan tentara Inggris Jenderal Mallaby terbunuh akibat aksi baku tembak di Jembatan Merah. Pihak Inggris marah dan melancarkan serangan pada 10 November ke Surabaya. Pejuang Surabaya tak ragu mengangkat senjata dan melawan. Puluhan ribu pejuang dan warga sipil meninggal. Tak sedikit pula yang harus mengungsi. Hingga kini 10 November ditetapkan sebagai Hari Pahlawan.

Cerita tersebut sudah saya dengar berulang-ulang sejak SD hingga kini di perguruan tinggi. Ketika guru SD mengisahkan peristiwa tersebut, perasaan saya bergejolak. Betapa besar pengorbanan yang dilakukan para pendahulu untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia. Namun kisah adalah kisah, kebiasaan zaman kini yang tidak membiasakan diri mengingat sejarah membuat sejarah ini dengan mudah dilupakan. Apalagi dengan banyaknya berita negatif mengenai negeri ini, peristiwa baik pupus begitu saja karena negara dan rakyatnya sibuk dengan urusan masing-masing.

Kesibukan terhadap urusan sendiri dan tak mengingat sejarah seolah menggerogoti Indonesia dari dalam. Kita lupa pengorbanan yang telah dilakukan dan lupa untuk menjaga apa yang sudah diberikan. Kedaulatan Indonesia sebagai negeri yang kaya raya dan makmur karena sumber daya melimpah pupus oleh gempuran asing, baik dari bahan pangan maupun manusia. Kedaulatan Indonesia sebagai negara ideologi Pancasila pudar oleh banyaknya tindakan intoleransi dan pertikaian yang memecah belah persatuan yang diusahakan.

Masyarakat dianggap tak pernah lelah oleh kekerasan dan pertikaian yang terus terjadi. Berita yang tersedia di media massa terus mempertontonkan intoleransi antar suku, ras, dan agama. Tidak lupa berita mengenai tingkah koruptor yang makin pandai dalam berkilah tanpa ada rasa salah terhadap warga negara Indonesia yang mempercayakan negara pada mereka. Belum lagi pembunuhan dan pelanggaran hak asasi manusia yang seolah sudah menjadi isu laten. Menyedihkan!

Media tak punya pilihan lain karena harus memberitakan hal yang sebenarnya. Jika mau berpikir lebih luas, adanya berita-berita tersebut juga diakibatkan oleh kenyataan yang ada. Namun semakin diberitakan, semakin keras kepala pula para pelanggar HAM, provokator pertikaian, dan koruptor. Seolah pemberitaan itu menambah popularitas mereka bukannya menjelekkan. Semua ingin menjadi korban tanpa mengakui dengan jujur bahwa dirinya adalah pengkhianat. Megalomania!

Slogan-slogan mengenai Hari Pahlawan siap ditabur oleh semua pihak. Mengheningkan cipta juga digagas tahun ini untuk mengingatkan diri terhadap jasa-jasa pahlawan yang telah memberikan warisan berharga pada kita. Namun tanpa sadar, kita sendiri juga siap menjadikan Hari Pahlawan hanya kebetulan yang terjadi tiap 10 November. Tidak ada waktu untuk kembali membuka buku sejarah dan memahami apa yang harus direnungkan serta mengheningkan cipta dengan tulus.

Esok harinya, kita kembali siap untuk melupakan apa yang telah terjadi.

Menghilang.

Hari Pahlawan hanya momentum.

Selesai.

Bertingkah Agak Bodoh di Plaza Senayan

Jadi Minggu (3/11) saya jalan-jalan ke Plaza Senayan bareng Jobs dan Tante Jobs. Terus di depan Sogo nemu papan direktori segede-gede apaan tau daaaan….bisa di-touch! Ini favorit saya kalo ada layar dan bisa dipencet.

Ternyata ada pilihan menu yang bisa buat foto, namanya photobooth. Jadilah saya pasang aksi, Tante Jobs udah ngeloyor duluan ke Sogo, dan Jobs nggak kenal saya gara-gara malu.

Kemudian dikirimkanlah hasil foto di photobooth ke email saya. Jejeeeeng:

Fix banget bikin malu emang nih. Untung di sekeliling sepi :D

Udah ah bye mau liburan lagi.

Katanya sih kerja sendirian susah. Tapi kadang kerjasama jauh lebih susah, apalagi dengan manusia yang tidak kooperatif.

TDP
Sloan Sabbith. Wartawan ekonomi jenius di The Newsroom.
Satu sosok yang membuat saya sadar bahwa kepintaran harus diimbangi dengan akal sehat. Kalau tidak, kepintaran akan membunuhmu.

Sloan Sabbith. Wartawan ekonomi jenius di The Newsroom.

Satu sosok yang membuat saya sadar bahwa kepintaran harus diimbangi dengan akal sehat. Kalau tidak, kepintaran akan membunuhmu.

Tentang Generasi Z

Generasi Z adalah generasi yang lahir ketika era teknologi dan digital sudah melanda. Mereka memiliki keterbukaan yang mudah dilihat dari interaksi di media sosialnya. Mereka bebas bereskpresi dan berpendapat. Mereka bisa memilih pemimpin, kemudian mencelanya dengan sadis melalui perangkat telekomunikasi yang mereka punya.

Mereka juga memiliki tingkat apolitis yang tinggi. Ketidakpercayaan terhadap pemimpin negara dan ketidakpuasan atas kinerja mereka cerca, namun mereka tidak berkontribusi dalam perbaikan itu.

Saya adalah generasi Z, yang masih menggantungkan kepercayaan terhadap generasi Y (yang lahir dan dibesarkan pada masa Orde Baru). Masih terlalu jauh bagi kami generasi Z untuk melampaui mereka karena kami masih minim pengalaman dalam dunia politik. Sedangkan untuk mulai ikut andil pun tidak bisa karena ketidakpuasan pada kepemimpinan kini yang bikin frustrasi.

Sebenarnya saya tahu dampak dari sikap apolitis di masa yang akan datang. Indonesia bisa kehilangan pemimpin karena tidak ada yang mau belajar ilmu politik dan mempraktikkannya dengan benar. Politik selamanya akan dianggap kotor dan menjijikkan karena apa yang terjadi sekarang menunjukkan hal itu.

Indonesia sebagai negara bisa hilang.

Berbahaya ya ternyata? Sudah lama saya berusaha menghilangkan sikap tidak peduli terhadap peta politik di Indonesia. Untuk apa? Untuk belajar kejadian kini yang akan jadi sejarah di masa yang akan datang. Dengan belajar dari sejarah, yang buruk tidak akan diulang dan yang baik akan dikembangkan.

Saya masih cinta Indonesia kok.

Selamat Sumpah Pemuda!

“You should date a girl who reads.
Date a girl who reads. Date a girl who spends her money on books instead of clothes, who has problems with closet space because she has too many books. Date a girl who has a list of books she wants to read, who has had a library card since she was twelve.

Find a girl who reads. You’ll know that she does because she will always have an unread book in her bag. She’s the one lovingly looking over the shelves in the bookstore, the one who quietly cries out when she has found the book she wants. You see that weird chick sniffing the pages of an old book in a secondhand book shop? That’s the reader. They can never resist smelling the pages, especially when they are yellow and worn.

She’s the girl reading while waiting in that coffee shop down the street. If you take a peek at her mug, the non-dairy creamer is floating on top because she’s kind of engrossed already. Lost in a world of the author’s making. Sit down. She might give you a glare, as most girls who read do not like to be interrupted. Ask her if she likes the book.

Buy her another cup of coffee.

Let her know what you really think of Murakami. See if she got through the first chapter of Fellowship. Understand that if she says she understood James Joyce’s Ulysses she’s just saying that to sound intelligent. Ask her if she loves Alice or she would like to be Alice.

It’s easy to date a girl who reads. Give her books for her birthday, for Christmas, for anniversaries. Give her the gift of words, in poetry and in song. Give her Neruda, Pound, Sexton, Cummings. Let her know that you understand that words are love. Understand that she knows the difference between books and reality but by god, she’s going to try to make her life a little like her favorite book. It will never be your fault if she does.

She has to give it a shot somehow.

Lie to her. If she understands syntax, she will understand your need to lie. Behind words are other things: motivation, value, nuance, dialogue. It will not be the end of the world.

Fail her. Because a girl who reads knows that failure always leads up to the climax. Because girls who read understand that all things must come to end, but that you can always write a sequel. That you can begin again and again and still be the hero. That life is meant to have a villain or two.

Why be frightened of everything that you are not? Girls who read understand that people, like characters, develop. Except in the Twilight series.

If you find a girl who reads, keep her close. When you find her up at 2 AM clutching a book to her chest and weeping, make her a cup of tea and hold her. You may lose her for a couple of hours but she will always come back to you. She’ll talk as if the characters in the book are real, because for a while, they always are.

You will propose on a hot air balloon. Or during a rock concert. Or very casually next time she’s sick. Over Skype.

You will smile so hard you will wonder why your heart hasn’t burst and bled out all over your chest yet. You will write the story of your lives, have kids with strange names and even stranger tastes. She will introduce your children to the Cat in the Hat and Aslan, maybe in the same day. You will walk the winters of your old age together and she will recite Keats under her breath while you shake the snow off your boots.

Date a girl who reads because you deserve it. You deserve a girl who can give you the most colorful life imaginable. If you can only give her monotony, and stale hours and half-baked proposals, then you’re better off alone. If you want the world and the worlds beyond it, date a girl who reads.

Or better yet, date a girl who writes.”

― Rosemarie Urquico

Ada yang bilang kalau Jurnal 2010 itu angkatan yang kerjaannya nongkrong di Meja Bundar melulu. Saya pikir itu karena sedang masanya. Kemarin kami datang, nanti kami pergi. Nanti yang muda-muda akan duduk di Meja Bundar, kami mungkin tak akan kembali. Ini masa kami. Kami menghargainya. Terima kasih kampus atas segala keseksian dan romantikanya.

TDP

Lalu Lintas Informasi

Beberapa hari yag lalu saya diskusi sama Ganda, salah satu kawan saya untuk menyelesaikan tugas Ekonomi Politik Media. Kami membicarakan media online (new media) yang memiliki karakteristik yang lebih segmented dimana orang-orang bebas buat milih informasi apa yang diinginkannya, begitu juga iklan yang sesuai sama dirinya. Oke masalah iklan itu buang aja karena bukan itu pembahasan saya saat ini.

Kemudian kemarin saya ditanya dosen soal berita terbaru dunia politik dan hukum. Saya kecele karena nggak tahu kasus apa yang dimaksud sama bu dosen. Saya baca berita ekonomi, politik dan hukum, tapi di koran - yang notabene itu berita satu hari lalu dan bukan berita saat ini. Ya ken?

Saya menyalahkan diri sendiri saat itu. Kenapa saya nggak rajin baca media baru yang lalu lintas informasinya selalu kenceng? Kenapa?

Karena saya nggak suka berita di media online.

Aduh, saya nggak bisa menyalahkan karakteristik media online yang emang beritanya pendek dan dangkal karena biasanya satu berita itu dipecah jadi beberapa bagian. Tapi ya kali kan kebutuhan saya akan informasi itu banyak ya, dan berapa banyak waktu yang saya buang buat berkali-kali klik dan nyari berita yang saya mau.

Karena saya berhak memilik informasi apa yang akan saya masukkan ke otak yang gedenya nggak seberapa ini.

Saya emang konvensional dan kekonvesionalan itu juga yang ada pada koran. Beritanya emang panjang (walau nggak mendalam) dan lengkap dipaket jadi satu suratkabar dimana saya bisa memilih informasi yang saya mau - tapi tetep banyak dan lumayan lengkap.

Inilah kegelisahan saya sebagai mahasiswi Jurnalistik yang lebih suka media cetak konvensional daripada new media atau media elektronik. Harusnya saya bisa mengatasi itu, tapi kok ya udah bertahun-tahun kuliah masih belum bisa juga baca berita di media online dengan komprehensif. 

Koran nggak akan mati kan? Majalah berita juga kan? Please saya cinta media cetak konvensional!